Atma tidak ingat apa-apa. Atma tidak ingat kenapa sekarang posisinya tiarap, terhimpit oleh lantai dan kursi penumpang, banyak pecahan kaca di sekitarnya, dan juga darah, yang entah milik siapa. Ataukah mungkin.. itu darahnya? Atma tidak habis pikir, kenapa hal sial menimpanya, padahal langitnya cerah, masih secerah sebelum ia menutup mata.
Adam, Atma mengantuk.
Hanya itu yang ia pikirkan, Adam. Bagaimana ia mungkin memarahinya nanti. Ponsel Atma memang ada di genggamannya, namun tangannya terlalu lemas untuk mengetikkan sesuatu kepada Adam, maupun orang tuanya. Ada hal yang ingin Atma sampaikan kepada Adam. Hal penting. Atma harus selamat dari ini.
Sekilas Atma berfikir, apa mungkin.. tugasnya di dunia ini sudah berakhir? Atau mungkin.. Atma seharusnya tetap menjadi Atma, tanpa mengembalikan ingatan dan kehidupannya tentang Dhipta, agar dia bisa hidup dengan tenang? Entah. Entahlah. Pun kepalanya semakin berat untuk berpikir, kakinya kebas, namun sekuat apapun dia mencoba untuk menggerakkannya, kakinya tidak bergeming. Apa kakinya patah? Entahlah.
Adam.. Atma ngantuk sekali.
Atma berusaha, sungguh. Atma telah berusaha untuk membuka matanya, melarang dirinya tidur, tapi susah. Susah. Pikirannya berlari lagi ke kemungkinan di masa depan, dimana ia mungkin telah menyelesaikan kuliah, dan bisa bekerja jadi bawahan Adam. Mereka bisa terus bersama. Alangkah indahnya jika hal itu terjadi.
Adam, Atma gak kuat. Tolong.
Tentu saja Adam tidak akan membalas, Adamnya hanya ada di kepalanya, bukan nyata. Atma, dengan segala tenaga terakhirnya, berharap agar Adamnya selalu bahagia, apapun itu, baik dengannya, atau tanpanya. Agar orang tuanya akan menjadi orang tua yang baik untuk Laksmi, dan bisa menerima kepergiannya. Agar Laksmi tumbuh menjadi orang yang jauh lebih baik dari dirinya, dan mendapatkan kesuksesan dalam hidupnya. Agar abang kosannya, Baskara, akan dapat ide menulis lagi, dan juga selalu bahagia. Agar teman-teman yang baru ia dapatkan di Found Family akan terus punya alasan untuk melanjutkan hidup mereka masing-masing.
Adam. Atma izin tidur, ya?
Disinilah Adam, mondar-mandir sambil berkutat untuk melakukan panggilan kepada Atma yang tak kunjung menjawab. Breaking news yang baru lewat di beranda webnya membuat jantungnya berdegup kencang, berharap itu bukan kendaraan yang ditumpangi Atma. Adam berdoa sekali lagi kepada Tuhannya, jika dia akan melakukan apapun agar Atma selamat. Atmanya, tidak boleh pergi begitu saja. Dia pun tak tahu harus apa, harus kemana, harus menelpon siapa selain Atma. Rekan satu ruangan kompak memandang aneh Adam saat dia tiba-tiba jatuh dari kursi, meringkuk untuk menangis. Namun, mereka seakan paham, hanya memberikan ruang untuknya berduka, seakan mereka tidak mendengarkan tangisan lirih Adam.
Dua hari lalu, Laksmi berhasil menghubungi Adam, dan mengkonfirmasi kalau Atma.. sudah tiada. Keluarganya akan memakamkan Atma besok, dan tentu saja Adam akan menghadiri acaranya. Adam tersentak saat ia menemukan sosok Baskara yang hendak memasuki kamar disaat ia membuka pintunya, dan mengangguk sekenanya. “Mau kemana, Dam?” tanya Baskara sambil merogoh kantongnya untuk mencari kunci kamarnya. “Mau ke Batu, bang. Ke…” entah, rasanya berat untuk Adam melanjutkan kalimatnya. Baskara yang peka hanya mengangguk, “Salam ya, ke Atma.” yang dibarengi dengan tepukan di pundak Adam. Dan yang lebih muda hanya menjawab dengan anggukan mantap.
“PAKET!” terdengar suara kurir paket saat Adam mencapai pagar, dan mendekatlah dia untuk menerimanya. “Untuk Sadam Mahardika?” Adam terkejut, dia tidak seharusnya menerima paket tapi tetap saja ia terima paket tipis, yang sepertinya berisi surat. “Iya, saya sendiri.” jawabnya sebelum menandatangani tanda paket telah diterima.